Internet of Things (IoT) digunakan dalam mitigasi bencana gunung berapi untuk memantau kondisi vulkanik secara real-time dan mendukung sistem peringatan dini. Sensor-sensor seperti seismik, suhu kawah, gas vulkanik, dan deformasi permukaan dikumpulkan melalui jaringan LoRa, seluler, atau satelit, lalu dikirim ke pusat analisis. Data tersebut membantu instansi seperti PVMBG dan BNPB menentukan status aktivitas gunung dan memberikan informasi cepat kepada masyarakat.Arsitektur sistem IoT terdiri dari empat lapisan utama: lapisan sensor (perception layer), lapisan jaringan (network layer), lapisan gateway (gateway layer) dan lapisan aplikasi (application layer). Sensor di gunakan untuk mengetahui aktivitas gunung berapi (seperti sensor gempa, sensor gas, sesnsor curah hujan dan lain-lain) menggunakan catu daya surya dan dikemas tahan cuaca. Data dikirim melalui Application Programmable Interface (API) ke penyimpanan berbasis cloud dan divisualisasikan di dashboard pemantauan. Beberapa riset di Indonesia telah menerapkan NodeMCU+LoRa untuk pemantauan aktivitas gunung api dan pengukuran suhu kawah secara otomatis yang terhubung ke platform Internet of Things (IoT).Tantangan utama penerapan IoT di wilayah vulkanik mencakup kerusakan sensor akibat lingkungan ekstrem, keterbatasan daya, dan risiko peringatan palsu. Untuk mengatasinya, dibutuhkan kalibrasi rutin, sistem komunikasi ganda, serta integrasi data yang selaras dengan protokol resmi PVMBG. Implementasi bertahap dengan prototipe kecil memungkinkan pengujian lapangan dan pelatihan respon cepat, menjadikan IoT komponen penting dalam sistem mitigasi bencana gunung berapi yang adaptif dan efisien.