Buku "BUKU RASA WARISAN JENANG AYU DUSUN CETOK" menceritakan tentangwarisan kuliner tradisional bernama Jenang Ayu dari Dusun Cetok, Kabupaten Klaten,Usaha ini dirintis sejak tahun 2006 oleh seorang pengrajin bernama Mbah Gito, yang kini telah berusia 74 tahun, melalui merek dagang "Gito Roso" [cite: 1]. Jenang Ayu bukan sekadar camilan manis, melainkan simbol ketekunan dan kearifan lokal masyarakat setempat yang telah menjadi identitas kolektif kebanggaan Dusun Cetok . 1Cita rasa jenang yang manis dan legit ini memiliki filosofi yang mendalam sesuai dengan namanya, yaitu "ayu", yang berarti cantik atau elok dalam bahasa Jawa Proses pembuatan Jenang Ayu Gito Roso sangat mempertahankan metode tradisional demimenjaga kualitas dan cita rasa yang otentik. Bahan baku utama yang digunakan meliputigula jawa asli, santan kelapa, tepung ketan, dan sedikit tepung beras .Adonan tersebutdimasak dan diaduk secara manual di atas tungku besar menggunakan kayu bakar selamakurang lebih lima jam . Walaupun tidak menggunakan bahan tambahan pengawet, hasilolahan jenang ini mampu bertahan hingga satu bulan apabila disimpan dengan baik, sehingga sangat cocok dijadikan alternatif oleh-oleh yang praktis .Seiring berjalannya waktu, usaha Jenang Ayu Gito Roso mengalami berbagai perkembangandan perluasan jangkauan pasar . Pada tahun 2021, usaha kuliner ini berhasil membukacabang kedua yang diberi nama Gito Roso 2 untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat . Jangkauan distribusinya pun kini tidak hanya berpusat di kawasan Klaten,tetapi telah meluas hingga ke luar Pulau Jawa seperti Provinsi Riau, dan bahkan pernahmenembus pasar luar negeri .Untuk beradaptasi dengan kebutuhan di era modern, parapengrajin kini telah beralih menggunakan kemasan kotak plastik yang lebih higienis dan tahan lama, serta mulai memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp sebagai sarana promosi dan pemesanan daring .Meskipun telah meraih kesuksesan yang signifikan, para penerus usaha Jenang Ayu GitoRoso masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya adalah keterbatasan modal danperalatan produksi yang masih serba manual . Selain itu, terdapat ancaman terkait kurangnya minat dari generasi muda untuk meneruskan usaha yang membutuhkan tenaga fisik ekstra ini, serta belum adanya dokumentasi resep dan teknik pembuatan secara tertulis yang baku .Oleh karena itu, kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi sumberdokumentasi sejarah yang berharga sekaligus menjadi dorongan bagi generasi muda danpemerintah setempat untuk bersinergi dalam melestarikan Jenang Ayu sebagai warisan kuliner kebanggaan Dusun Cetok.